Sejarah Pertumbuhan Fiqh (4)

Periode Imam Mujtahid

Abad kedua hijriyah yang dikenal dengan nama masa tabi’it tabi’in dan imam-imam mazhab seperti Malik bin Anas yang terkenal ahli hadis dengan kitabnya al-Muwatha, Imam Abu Yusuf seorang faqih di Irak, Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Pada periode inilah dimulai gerakan pembukuan sunnah, fikih dan cabang-cabangnya. Seperti dikemukakan, ushul fikih dikenal sebagai suatu cabang ilmu yang berdiri sendiri juga lahir padaabad kedua hijriyah atau masa tabi’ittabi’in yaitu dengan hadirnya kitab al-Risalah hasil karya monomental dari Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H).

Dengan kehadiran kitab al-Risalah, mulailah para ulama berlomba menyusun ilmu ushul fikih sehingga ia lebih berkembang menuju kepada kesempurnaannya. Imam-imam  mujtahid  dalam  menyusun  kaidah-kaidah hukum ada yang mengikuti jejak yang telah ditempuh oleh Asy-Syafi’i dan ada pula yang membuat kaidah atau istilah-istilah dan metode tersendiri. Dari sinilah kemudian lahirnya aliran-aliran ushul fikih yang pada dasarnya ada dua aliran yaitu: Aliran Kalamiyah dan aliran Hanafiyah.

Aliran Kalamiyah dalam pembahasan ushulnya biasanya mengikuti cara-cara pembahasan yang ditempuh oleh ulama kalam. Pembahasan mereka didasarkan  kepada  penerapan  kaidah  dan  alasan-alasan  yang  kuat  dalam menetapkan kaidah-kaidah itu tanpa terikat apakah kaidah itu sesuai dengan pendapat imam mazhabnya atau tidak, apakah sesuai dengan furu’ yang telah berjalan  dan  berkembang  dalam  mazhabnya  atau  tidak.  Selama  mereka menganggap bahwa kaidah-kidah yang ditetapkan dan alasan-alasan itu kuat, itulah yang mereka pegang terlepas sesuai atau tidak dengan mazhabnya. Yang termasuk aliran ini kebanyakannya para ulama ahli ushul fikih dari golongan Syafi’iyah dan Malikiyah.[1]Sedang aliran Hanafiyah, dalam pembahasan ushulnya berangkat  dari  kasus-kasus  atau  soal-soal  furu’iyah  yang  terjadi  dan berusaha menyesuaikan dengan yang telah disepakati oleh imam mazhab mereka.[2]Apabila kaidah-kaidah tersebut bertentangan dengan soal-soal furu’ maka  kaidah itu diubah sehingga sesuai dengan furu’ tersebut. Dengan demikian ushul dari aliran Hanafiyah ini banyak berisi hukum furu’, karena furu’ itulah yang menjadi dasar bagi pembentukan kaidah-kaidah yang ditetapkannya.

 

Di samping dua aliran di atas, ada pula aliran ushul fikih yang berusaha mengkombinasikan kedua aliran itu yang biasa disebut thariqah aljam’an atau aliran konvergensi. Aliran ini, dalam konteks tertentu cenderung kepada aliran kalam (tradisional), namun pada kasus lain cenderung kepada aliran rasionalisme Hanafiyah.

Di antara tokoh aliran yang disebut terakhir yakni Imam Kamal almn- Din bin al-Humam dengan kitabnya al-Tahrir dan Tajuddin Abdul Wahab al – Subhi dengan kitabnya Jam’ul-Jaw±mi. Kemudian pada abad ke-8 Hijriyah tampil Imam al Syathibi  (w.  790 H) yang memberi warna baru di bidang ushul fikih dengan kitabnya al Muwafiqat fi Ushul al-Syari’ah. Dalam kitab ini, di samping diuraikan berbagai kaidah yang berkaitan dengan aspek-aspek  kebahasaan  juga  dikemukakan  tujuan-tujuan  syara’  dalam  menetapkan hukum. Kitab ini dinilai sebagai kitab ushul fikih yang komprehensif dan akomodatif untuk saat ini.


[1] Ali Hasaballah, Ushul al-Tasyri’ al-Islamiy, Dar al-Ma’arif, Mesir, 1964, h. 18; lihat pula: Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, h. 12-13

[2] Ali Hasaballah, Loc. Cit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s