Sejarah Pertumbuhan Fiqh (3)

Periode Tabi’in

Setelah  periode  sahabat  berlalu,  kemudian  diteruskan  oleh periode berikutnya yaitu tabi’in. Pada periode ini imam-imam mujtahid telah  tersebar  ke  beberapa  negeri  dan  telah  terpengaruh  pula  oleh lingkungan serta cara berpikir yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap pola penetapan hukum. Karena itulah masing-masing mujtahid melakukan ijtihad menurut metodenya sendiri yang dianggap benar.

Pada periode ini golongan tabi’in harus bertindak sebagai mufti. Di  Madinah  misalnya  tampil  bintang-bintang  ulama  terkenal  dengan sebutan  fuqaha  sab’ah  yaitu;  Sa’id  bin  Musayyab,  al-Qasim  bin Muhammad, ‘Urwah bin Zaid, Kharijah bin Zaid, Abu Bakar bin Abdir – Rahman, Sulaiman bin Yassar dan  ‘Ubaidillah bin  ‘Utbah bin Mas’ud.

Sedang di Kufah muncul pula mufti-mufti yang  memiliki reputasi mengagumkan seperti; Al-Qamah bin Qais an-Nakha’i, Aswad bin Yazid an-Nakha’i, Amr bin Syurahbil al Hamdani, Syuraih bin Harits al-Qadhi dan lainnya.[1] Di hadapan mereka terbentang kitab suci, sunnah Rasul dan fatwa sahabat serta keharusan mengembalikan segala hukum kepada kitab suci dan sunnah Rasul. Mulai periode ini nampaklah manhaj-manhaj yang ditempuh mereka secara lebih nyata dan jelas daripada dua periode sebelumnya.
Aliran-aliran fikih yang tumbuh pada periode ini membuat metode-  metode  tersendiri  yang  berbeda  satu  sama  lain.  Fuqaha-fuqaha Madinah memperhatikan maslahat mursalat apabila tidak menemukan nash. Golongan ini dipengaruhi oleh pemikiran Umar bin Khattab dan sahabat lain yang mempergunakan manhaj ini. Fuqaha di Kufah-Irak  menggunakan  qiyas  mengikuti  jejak  Ali  bin  Abi  Thalib  dan  Ibnu Mas’ud. Kedua sahabat ini banyak menggunakan qiyas. Perbedaan   metode   dalam   menetapkan   hukum   tersebut akhirnya melahirkan aliran-aliran tertentu yang dikenal dengan aliran Ahli Hadis dengan tokohnya Imam Malik yang berpusat di Madinah dan aliran Ahli Qiyas yang berpusat di Kufah dengan tokoh utamanya Imam Abu Hanifah.

Kaidah-kaidah  istinbath  yang  telah  dipegangi  oleh  para mujtahid baik pada masa sahabat maupun masa tabi’in merupakan cikal bakal lahirnya ushul fikih yang pada gilirannya menjadi satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada periode tabi’in ini sumber tasyri’ terdiri atas; Al-Qur’an, Sunnah Rasul, Aqwalush Shahabat dan Ijtihad. Dalam  perkembangan  berikutnya,  Imam  al-Syafi’i  tampil untuk meletakkan pedoman dan kerangka berpikir yang menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan mujtahid dalam merumuskan hukum  dari  dalilnya.  Metode  berpikir  yang  dirumuskan  Imam  al – Syafi’i itulah yang kemudian disebut dengan “Ushul Fiqh”. Imam al-Syafi’i dinilai sebagai orang pertama membangun ilmu  ushul fiqh  dalam kitab al-Risalah-nya. Meskipun sebelum itu telah muncul imam-imam mujtahid yang merumuskan metode fiqh, namun ketika itu belum tersusun secara sistematis sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Metode berpikir al-Syafi’i itu kemudian dikembangkan oleh pengikut-pengikutnya   secara   utuh,   sementara   ulama   Hanafiah mengambil  sebagian  pemikiran  al-Syafi’i  dengan  pengembangan konsep istihsan dan urf. Kelompok Malikiyah juga demikian dengan pengembangan  konsep  Maslahat  Mursalah  dan  Sad  al-Dzara’i. Dengan demikian konsep yang dikembangkan itu, pada perkembangan berikutnya melahirkan aliran-aliran ushul fiqh yang berbeda.


[1] Ibid., h. 44, dan lihat pula H. Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, h. 37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s