Sejarah Pertumbuhan Fiqh (2)

Periode Sahabat

Kalau pada masa Rasulullah SAW masih hidup, para sahabat dapat bertanya langsung kepada beliau tentang persoalan-persoalan yang dihadapi,  namun  sepeninggal beliau  muncul  persoalan-persoalan  baru yang tadinya belum pernah dialami. Untuk menentukan hukum terhadap persoalan-persoalan  baru  itu  para  sahabat  memberikan  fatwa dan menetapkan hukum pada dalil-dalil nash yang mereka pahami berdasarkan kemampuan mereka  dalam memahami bahasa Arab tanpa memerlukan kaidah-kaidah bahasa yang dijadikan pedoman dalam memahami nash. Mereka juga menetapkan hukum terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak dijumpai  nashnya  secara  langsung  dengan berdasarkan  kemampuan mereka  dalam  memahami  perkembangan  pembinaan  hukum  Islam lantaran pergaulan mereka  dengan Nabi SAW. Disamping itu, mereka juga menyaksikan sebab-sebab turunnya ayat dan wurud-nya hadis nabi. Mereka memahami tujuan dan dasar-dasar pembentukan hukum.

Para sahabat mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang Al-Qur’an, Al-Sunnah, bahasa Arab dan sebab-sebab turunnya, rahasia – rahasia dan tujuan syara’. Pengetahuan ini disebabkan karena pergaulan mereka dengan Rasulullah SAW dan dapat menyaksikan kasus-kasus yang terjadi disamping kecerdasan mereka sendiri. Karena itu, mereka tidak memerlukan peraturan-peraturan dalam meng-istinbath-kan hukum seperti halnya mereka tidak memerlukan kaidah-kaidah untuk mengetahui bahasa Arab. Dengan demikian pada periode ini ushul fikih seperti yang sekarang juga  belum  dikenal  karena  memang  belum  dibutuhkan.  Walaupun demikian para sahabat telah menggunakan manhaj – manhaj tertentu dalam istinbat hukum misalnya tentang:

1. Larangan atau al-Nahyu: apakah larangan disini menunjukkan haram

atau hanya makruh, seperti hadis yang menyatakan:

إِذَا أَتَيْتُمُ الغَائِطِ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا القِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Hadis ini melarang menghadap kiblat atau membelakanginya ketika kencing atau ketika buang kotoran. Dalam memahami hadis ini di satu pihak ada sahabat yang menganggap  hadis  ini bersifat umum dan tidak  mansukh,  tetapi di pihak  lain  berpendapat  bahwa  hadis  ini  telah  di-mansukh  dengan alasan: Jabir selama satu tahun sebelum wafatnya kencing menghadap kiblat,   begitu   pula   Ibnu   Umar   kencing   atau   buang   kotoran membelakangi kiblat menghadap ke Syam.[1]Dari dua hal yang kontroversial ini, di satu sisi melarang menghadap kiblat atau membelakanginya, namun pada sisi lain ada sahabat yang menghadap atau membelakanginya. Oleh karenanya larangan di sini hanya berstatus karahat.

2. Mereka  menetapkan lafaz yang  umum dari Al-Qur’an atau Sunnah kecuali   ada   dalil   yang   menunjukkan   kepada   khusus   seperti: argumentasi yang dikemukakan Umar r.a. kepada Abu Bakar tentang membunuh   orang   yang   enggan   mengeluarkan   zakat   dengan mengatakan:

كيف تقاتلهم وقد قال النبي صلعم: امرت ان اقاتل الناس حتى يقولوا لااله الاالله،

فاذا قالوا عصموا منى دماءهم واموالهم

Argumentasi  Umar  ini  kemudian  dijawab  oleh  Abu  Bakar  dengan menjelaskan    bahwa   dalam   hadis    nabi   itu   ada   isti£na    yaitu (الا بحقها),  maksudnya  orang  yang  enggan  mengeluarkan  zakat  berhak untuk dibunuh.[2]

3. Dalambentuk  lain  mereka  menetapkan bahwa  keumuman ayat  Al – Qur’an dapat dikhususkan oleh hadis, seperti kasus Abdullah Ibnu Umi  Maktum  seorang sahabat  yang  buta,  ia  datang  kepada  Nabi  SAW sehubungan dengan turunnya surat abbasa lantas ia berkata: Bagaimana wahai Rasulullah orang mukmin yang memang tidak bisa untuk berjihad? Lalu Nabi SAW menjawab dengan “غير اولى الضرر” . Demikianlah  para  sahabat  ra.  membahas  hukum-hukum syara’ dengan berdasarkan Al-Qur’an  atau Sunnah.  Apabila tidak ada ditemukan  nash  dari  Al-Qur’an  atau  Sunnah,  mereka  mempergunakan ijtihad.[3] Ijtihad di sini termasuk di dalamnya qiyas, misalnya; Ali ra. Menetapkan hukuman orang peminum khamar dengan 80 kali pukul. Ali dalam   hal   ini   meng-qiyas-kan “mabuk”   kepada “qazaf”   dengan perkataannya:

اذا شرب هذى، واذا هذى قذف

“Apabila dia minum, dia mabuk. Apabila dia mabuk dia tidak terkontrol omongannya (qazaf)”.

Sedang  hukuman  qazaf  menurut  hadis  80  kali pukul,  oleh  karena  itu peminum khamar hukumannya juga  80 kali.[4] Metode ijtihad yang lain misalnya dengan cara: Men-taufiq-kan dua dalil, seperti ayat:

وحمله وفصاله ثلاثون شهرا

dengan ayat :

والوالدات يرضعن اولادهن حولين كاملين

Ayat pertama menjelaskan bahwa seorang perempuan yang mengandung dan menyapihnya selama selama 30 bulan, sedang ayat kedua menjelaskan bahwa perempuan-perempuan itu hendaknya menyusukan anaknya selama dua tahun. Dengan demikian  30 bulan kurang dua tahun sama dengan enam bulan, maka sahlah anak itu untuk dinisbatkan kepada bapaknya.[5]

Bentuk  metode  ijtihad  yang  lain  lagi  yaitu:  mendahulukan sebagian dari nash-nash yang lain apabila pada dzahir-nya berlawanan, baik  dengan  cara  men-takhshish  atau  me-nasakh  nash  yang  terdahulu karena ada nash yang datang kemudian. Termasuk dalam pembahasan ini misalnya:

a.  Mendahulukan ayat Al-Qur’an yang qath’i atas khabar Ahad Contoh taqd³mul ‘am al-Qath’iy ‘ala khabaril wahid ini seperti yang diriwayatkan oleh ahli ushul bahwa pada suatu hari Fathimah binti Qaisyi bersaksi (melaporkan) kepada Umar bin Khattab bahwa ia telah diceraikan oleh  Rasulullah,  namun  ia  tidak  diberi  nafkah  dan  tempat tinggal. Umar menolak

b. kesaksian perempuan ini dengan berpegang kepada ayat 1 surat Ath-Thalak yang berbunyi:

لا تخرجوهن من بيوتـهن

dan ayat 6 surat Ath-Thalak:

اسكنوا هن من حيث سكنتم من وجدكم

Kedua ayat ini menjelaskan tentang haramnya mengeluarkan perempuanperempuan yang dalam keadaan cerai raj’i dan dia masih berhak untuk mendapatkan  nafkah  dari suami.  Karena  itu  Umar  menolak  kesaksian perempuan tadi dengan mendahulukan ayat Al Qur’an yang qath’i atas khabar Ahad.[6]

b. Dengan mendahulukan perkataan atas perbuatan (taqd’m al-qaul ‘ala al- fi’li), seperti hadis dari Nafi’ yang menceritakan bahwasanya Ibnu Umar pernah menyewakan tanah pertaniannya pada zaman nabi hingga sampai masa  Abu  Bakar,  Umar  dan  Utsman  bahkan  sampai  masa  khalifah Mu’awiyah. Pada akhir masa kekhalifahan Mu’awiyah, Rafi’i bin Khadij menceriterakan   bahwa   Rasulullah   melarang menyewakan   tanah perkebunan semacam itu, kemudian Ibnu Umar tidak lagi menyewakan tanah perkebunannya sesudah itu. Menyewakan tanah adalah perbuatan, larangan nabi adalah perkataan.

c. Bentuk lain yang juga ditempuh sahabat yaitu: Mentakhshish Al-Qur’an dengan Khabar Ahad (takhshish al-Qur’an bi khabar al-Wahid) misalnya:

Utsman bin  Affan  menetapkan  bahwa  perempuan  yang  dicerai  khulu’ sucinya hanya satu kali haid, dan tidak ada ‘iddah sebagaimana cerai yang lain. Utsman berpendapat bahwa cerai khulu’ itu sama dengan fasakh, walaupun  ada  ayat  yang  menjelaskan ‘iddah  itu  harus  tiga  kali  suci (tsalatsata qur-in). Hadis  di atas  adalah  takhshish  dari ayat  tsalatsata  qur-’in. Demikian menurut Utsman dan yang mengikutinya. Sementara yang tetap berpegang wajib ‘iddah itu tiga kali suci atau haid karena nash Al-Qur’an tidak bisa ditinggalkan dengan sebab adanya khabar Ahad.[7]

Di bentuk  selanjutnya  yaitu;  me-nasakh  yang  terdahulu  dengan  yang datang  kemudian.  Seperti ‘iddah  wanita  hamil  yang  suaminya meninggal. Dalam hal ini kalangan sahabat berbeda pendapat. Menurut Ali dan Ibnu Abbas, ‘iddah wanita itu dari empat bulan sepuluh hari, artinya  empat  bulan  sepuluh  hari  ditambah  setelah  ia  melahirkan. Tetapi menurut Umar, Ibnu Majlis Taklim Abdan Syakura’ud, Ibnu Umar, Abu Mas’ud  al-Badri  dan  Abu  Hurairah,  ‘iddah-nya  cukup setelah ia melahirkan (‘iddah hamil) dengan alasan ayat 4 surat Ath – Thalak :

واولات الاحمال اجلهن ان يضعن حملهن

 

yang dinamai surat al-Nisa Shugra turunnya kemudian daripada ayat

228 surat al-Baqarah yang dinamai surat al-Nisa Kubra yang berbunyi:

Ini mengisyaratkan kepada prinsif bahwa yang datang kemudian menasakh yang datang lebih dahulu. Demikianlah beberapa bentuk  metode yang  ditempuh para sahabat dalam menuangkan hukum walaupun hasil tidak mesti sama antara satu dengan yang lain. Keragaman pendapat di kalangan sahabat itu adalah hal yang wajar, karena tingkat kemampuan mereka dalam memahami  ayat  Al-Qur’±n  atau  hadis  nabi  juga  berbeda. Sudut pandang dan tinjauan merekapun tidak mesti sama. Di sinilah letaknya dinamika hukum Islam dan adanya peluang bagi para sahabat untuk melakukan kreatifitas ijtihadnya.

Dapat disimpulkan bahwa pada periode sahabat ini sumber tasyri’  terdiri atas; Al-Qur’an, al-Sunnat Nabawiyat dan Ijtihad.


[1] Ibid., h. 30

[2] Ibid.

[3] Muhammad Hudhari Bik, Ushul Fikih, Dar al-Fikr, Mesir, 1969M/1384H, h. 4

[4] Muhammad Abu Zahrat, Ushul Fikih, Dar al-Gazali, Mesir, h. 11

[5] Abdul Wahab Ibrahim, Op. Cit., h. 32

[6] Ibid., h. 30

[7] Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s