Sejarah Pertumbuhan Fiqh (1)

Periode Rasulullah SAW

Ushul fikih tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya fikih. Dimana terdapat fikih disitulah terdapat manhaj al-istinbath. Dimana terdapat manhaj al-istinbath disitulah terdapat ushul fikih. Ushul fikih sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana yang kita kenal sekarang ini pada masa Rasulullah SAW belum dikenal. Hal ini dapat dimengerti karena pada masa itu Rasulullah SAW dalam memberikan fatwa dan menetapkan hukum dapat secara langsung mengambil nash Al-Qur’±n yang diwahyukan kepadanya atau beliau menjelaskan dengan sunnahnya yang pada hakikatnya juga merupakan wahyu. Di samping itu, beliau juga berijtihad dalam menetapkan hukum yang dilakukan secara naluri. Artinya, dilakukan tanpa memerlukan kaidah-kaidah yang dijadikan sebagai pedoman dalam mengistinbath-kan hukum dan berijtihad. Pada masa Rasulullah SAW ushul fikih seperti sekarang ini belum diperlukan, sebab Rasulullah SAW dan para sahabat dapat memahami secara langsung hukum yang ditetapkan Al-Qur’an. Rasulullah SAW pada masa hayatnya menempati posisi sentral, beliau sebagai muballigh, peletak syari’at, pemberi penjelasan (mufassir), pemberi fatwa, qadhi dan imam. Sehubungan dengan itu Abul Abbas alQurafi pernah berkata: Ketahuilah: bahwasanya Rasulullah SAW itu seorang pemimpin yang agung, seorang qadhi yang memutuskan hukum, seorang mufti yang paling tahu. Beliau juga penghulu dari para imam, seorang qadhi yang menegakkan hukum, orang yang paling ‘alim. Maka kehormatan keagamaan itu hanya diberikan kepadanya dan di dalam risalahnya oleh Allah … Risalah yang beliau terima dari Allah SWT kemudian disampaikan kepada umat manusia untuk menegakkan kemaslahatan dan menolak kerusakan guna terciptanya suasana kehidupan yang harmonis dalam tatanan pergaulan sosial. Nabi Muhammad SAW disamping sebagai penyampai risalah, beliau juga pemberi fatwa dan sekaligus sebagai legislator yang berdasarkan wahyu Tuhan dan atau penjelasan-penjelasan dari beliau sendiri melalui sunnahnya tanpa memerlukan kaidah-kaidah ushul sebagaimana yang diciptakan oleh para ulama kemudian. Dengan demikian pada periode Rasul SAW ini sumber hukum ada dua yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyat yang berfungsi sebagai bayan terhadap Al-Qur’an, baik sebagai bayan tafsir, bayan taukid, bayan taqrir maupun bayan tasyri’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s