Definisi Ahwal

Dalam pembicaraan tentang tarekat sebagai perjalanan spiritual kita tidak bisa mengabaikan dua istilah teknis yang sangat penting. Yaitu: “Maqamat dan ahwal” . Adapun “ahwal” bentuk jamak dari “hal” biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang di alami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.

Sekalipun sama-sama di alami dan di capai selama masa perjalanan spiritual seorang sufi menuju tuhannya. Namun menurut para sufi ada perbedaan yang mendasar antara “maqamat” dan “ahwal” ini baik dari cara mendapatkannya maupun kelangsungannya. “Ahwal” sering di peroleh secara spontan sebagai hadiah dari tuhan. Diantara “ahwal” yang sering di sebut adalah takut, syukur, rendah hati, taqwa, ikhlas, gembira. Meskipun ada perdebatan di antara para penulis tasawuf, namun ke banyakan mereka mengatakan bahwa “ahwal” di alami secara spontan dan berlangsung sebentar dan di peroleh tidak berdasarkan usaha sadar dan perjuangan keras, seperti halnya pada “maqamat” melainkan sebagai hadiah berupa kilatan-0kilatan ilahi (Divine Flashes), yang biasa di sebut “lama’at”.
Selain soal cara memperoleh dan sifat keberlangsungannya, saya juga merasa penting untuk menyinggung sifat pengalaman para sufi dalam pengalaman spiritualnya menuju tuhan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi jumlah maqamat dan susunannya.
Demikian jika kalau kita baca naskah-naskah sufi ada yang mengatakan bahwa ridha misalnya sebagai “maqam” (al-Kalabadzi, al-Ghazali dan Qusyairi), ada juga yang mengganggap sebagai “akhwal”, seperti yang diyakini misalnya, oleh Abu Utsman al-Hiri. Selain pelangsungan dalam “ahwal” ada yang mengatakan bahwa “beberapa ahwal adalah seperti kilatan. Kalau itu dikatakan menetap maka menurut seorang guru Al-Qusyari, itu sekedar omongan nafsu”. Tetapi di pihak lain, Abu Utsman al-Hiri justru mengatakan, “Jika hal tidak abadai dan tidak terdelegasikan, maka iti hanyalah kilatan dan pelakunya tidak sampai pada hal yang sebenarnya. Hanya apabila sifat tersebut menetap, maka itulah yang dinamakan hal. Bagi saya perbedaan persepsi terhadap baik maqamat maupun ahwal adalah akibat pengalaman subyektif masing-masing sufi dalam perjalanan spiritualnya. Tidak ubahnya seperti serombongan turis yang mengunjungi sebuah kota juga akan memiliki persepsi dan diskripsi yang berbeda tentang kota itu. Pebedaan-perbedaan itu sama sekali tidak berarti bahwa pengalaman mereka itu halusinasi atau palsu dan menunjukkan ketidakobjektifan dunia yang mereka alami, dengan alasan yang sama bahwa kita tidak bisa begitu saja menolak realitas “kota” yang dikunjungi para turis hanya karena perbedaan yang terdapat dalam laporan masing-masing anggota rombongan tersebut tentang kota yang mereka kunjungi. Jadi, pengalaman spiritual para sufi bisa subjektif tetapi dunia sufi yang mereka alami tetaplah objektif dan real.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s