Sumber Pengetahuan Epistemologi Bayan

Meski menggunakan metode rasional filsafat seperti  digagas Systhibi, epistemology bayani tetap berpijak pada teks (nash). Dalam ushul al fiqh, yang dimaksud nash sebagai sumber pengetahuan bayani adalah Al Quran dan Hadis ( Khalaf, 1978: 5-34 ). Ini berbeda dengan pengetahuan burhani yang mendasarkan diri pada rasio dan irfani pada intuisi. Karena itu, epistimolog bayani menaruh perhatian besar dan teliti pad proses transmisi teks dari generasi ke generasi (al Jabiri,1991: 116). Ini penting bagi bayani, karena sebagai sumber  pengetahuan benar tidaknya transmisi teks menentukan benar salahnya ketentuan hokum yang diambil. Jika transmisiteks bias dipertanggung-jawabkan berarti teks tersebut benar dan bias dijadikan dasar hukum. Sebaliknya, jika transmisinnya diragukan, maka kebenaran teks tidak bisa dipertanggung jawabkan dan itu berarti ia tidak bisa dijadikan landasan hukum.

Karena itu, mengapa pada masa tadwin (kodifikasi), khususnya kodifikasi  hadis, para ilmuan begitu ketat dalam menyeleksi sebuah teks yang diterima. Bukhari, misalnya  menggariskan syarat yang tegas bagi diterimanya sebuah teks hadis; (1) Bahwa perowi harus memenuhi tingkat criteria yang paling tinggi dalam hal watak pribadi, keilmuan dan standar akademis, (2) harus ada informasi positif tentang para perowi yang menerangkan bahwa mereka saling bertemu muka dan para murid belajar langsung pada gurunya. Dari upaya –upaya seleksi tersebut kemidian lahir ilmu –ilmu tertentu untuk mendeteksi dan memastikan keaslian teks, seperti al Jarh wa al Ta’dil, Mushthalah al Hadits, Rijal al Hadits dan seterusnya (Azami, 1996: 143).

Selanjutnya tentang nash al Qur’an, meski sebagai sumber utama, tetapi ia tidak selalu memberikan ketentuan  pasti. Dari segi pertunjukan hukumnya (dialah al hukm), nashal Quran bisa dibagi dua bagian, qath ‘I dan zhanni. Nash yang qath’I dilalah adalah nash-nash yang menunjukkan adanya makna yang dapat dipahami dengan pemahaman tertentu, atau nash yang tidak mungkin menerima tafsir dan takwil, sebuah teks yang tidak mempunyai sebua ari lain kecuali yang satu itu. Dalam konsep Syafi’I,  yang menunjukkan atas makna tapi masih memungkinkan adanya takwil, atau dirubah dari makna asalnya menjadi makna yang lain (Khalaf, 1978: 5-62).

Kenyataan tersebut juga terjadi pada al-sunnah, bahkan lebih luas. Jika dalam al Quran, konsep  qath’I dan zdanni hany berkaitan dengan dilalahnya, dalam sunnah, hal itu berlaku pada riwayat dan dilalahnya. Dari segi riwayat berarti bahwa teks  hadits tersebut diyakini benar- benar dari Nabi atau tidak, atau bahwa aspek ini akan menentukan sah  tidaknya proses trasmisi teks hadis, yang dari sana keudian lahir berbagai macam kualitas hadis, seperti mutawatir,ahad,shahih,hasan,gharib,ma’ruf,maqtu’ dan seterusnya. Dari segi dilalah berarti bahwa makna teks hadis tersebut telah memberikan maknta yang pasti atau masih bisa takwil (al Jabiri, 1991: 116)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s