Cara Mendapatkan Pengetahuan Menurut Epistemologi Bayani

Untuk mendapatkan pengetahuan, epistemology bayani menempuh dua jalan. Pertama, berpegang pada redaksi (lafat)teks dengan menggunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahwu dan saraf sebagai alat analisa. Kedua , menggunakan metode qiyas (analogi)dn inilah prisip utama epistemology bayani (Al-Jibiri, 1991:530). Dalam kajian ushul al fiqh, qiyas diartikan sebagai memberikan keputusn hukum suatu masalah berdasarkan masalah lain yang telah ada kepastian hukumnya dalam teks,karena adanya kesamaan illah. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi dalam melakukan qiyas. (1) adanya al ashl,yakni nas suci yang memberikan hukum dan dipakai sebagai ukuran. (2)al far’,sesuatu yang tidak ada hukumnya dalan nas. (3) hukum al ashl, ketetapan hukum  yang diberikan oleh ashl. (4) illah, keadaan tertentu yang dipakai sebagai dasar penetapan hukum ashl (Khalaf,1978:60).

Contoh qiyas adalah hukum meminum arak dan kurma. Arak dari perasan kurma disebut  far ’ (cabang) karena  tidak ada ketentuan hukumannya dalam nash, dan dia akan diqiyaskan dalam khamer.  Khamer adalah ashl(pokok) sebab terdapat dalam teks (nash) dan hukumnya haram, alasannya (illah) karena memabukkan.  Hasilnya arak adalah haram karena  ada perasan antara arak dan khamer,yakni sama-sama memabukkan.

Menurut Jabiri, metode qiyas sebagai cara mendapatkan pengetahuan dalam epistemology bayani tersebut  digunakan dalam tiga aspek. Pertama, qiyas dalam kaitannya status dan derajat hukum yang ada pada ashl maupun furu’ (al qiyas bi’I tibar madiy istihqaq kullin min al ashl wa al far’I li al hukm). Bagian ini mencakup tiga hal:(1)qiyas jail, di mana far’ mempunyai persoalan hukum yang kuat dibanding ashl,(2)qiyas fi ma’na al nash, dimana ashl dan far’ mempunyai derajat hukum yang sama,(3) qiyas al khafi, dimana illat ashl tidak diketahui secara jelas dan hanya menurut orang tua (far’). Masalah ini tidak ada hukumannya dalam nash, sedang yang ada adalah larangan berkata “Ah”(ashl). Perbutan memukul lebih berat hukumnya disbanding berkata “ah”( al Jabiri, 1991: 146).

Kedua, berkaitan dengan illat yang ada pada ash dan far’, atau yang menunjukkan kea rah itu (qiyas bi I’tibar ala dzikir al ilah au bi I’tibar dzikir ma yahull  ‘alaiha). Bagian ini meliputi dua hal: (1) qiyas al illat, yaitu menetapkan ilat yang ada ashl dan far’, (2) qiyas al dilalah, yaitu menetapkan petunjuk (dilalah) yang ada ashl kepada far’, bukan ilahnya (al Jabiri, 1991:147).

Ketiga, qiyas berkaitan dengan potensi atau kecenderungan untuk menyatukan antaashl dan fa r’ (qiyas bi  I’tibar quwwahn “al jami” bain al ashl wa al far’ fayumkin tashniyuh) yang ole Ghazali dibagi dalam empat tngkat: (1) adanya perubahan hukum baru, (2) keserasian, (3) keserupaan(syibh), (4) menjauhkan (thard) (al Jabiri, 1991: 147).

Menurut Abd al Jabbar, seorang pemikir teologi Muktazilah, metode  qiyas bayani di atas tidak hanya untuk menggali pengetahuan dari teks tetapi juga bisa dikembangkan dan digunakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan non-fisik (ghaib). Disini ada empat cara (Al-Jabbar, 1965: 167).

  1. Berdasarkan haibkesamaan petunjuk (dilalah) yang ada (istidlal bi al syahid ala al ghaib li isytirakihima fi al dilalah).Contoh, untuk mengetahui bahwa Tuhan Maha Berkehendak. Kehendak Tuhan (ghaib) diqiyaskan pada kondisi empiric manusia (syahid). Hasilnya, ketika dalam realitas empiric manusia(syahid). Hasilnya,ketika dalam realitas empiric manusia mempunyai kehendak dan tinakan , berarti Tuhan juga demkian.
  2. Berdasarkan kesamaan illah(istidlal bi al syahid ala ghaib li isytirakihima fi al illah). Contoh, tuhan tidak mungkin belaku jahat karena pengetahuannya tentang hakekat dan dampak kejahatan tersebut ini didasarkan atas kenyataan yang terjadi pada manusia, yaitu ketika manusia tidak akan berbuat jahat karena mengetahui tentang kejelekan sikap tersebut, berarti Tuhan juga demikian.
  3. Berdasarkan kesamaan yang berlaku pada tempat ilah (istidlal bi al syahid ala al ghaib li isytirakihima fima yajri majra al illah).
  4. Berdasatkan pemahaman bahwa yang ghaib mempunyai derajat lebih disbanding yang empiric (istidlal bi al syahid ala al ghaib li kaun al hukm fi al ghaib anlagh minh fi al syahid). Contoh, ketika  mengetahui bahwa kita (syahid) harus berlaku baik karena hal tersebut adalah kebaikan, maka apalagi Tuhan yang mengetahui bahwa sesuatu adalah baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s