Perkembangan Epistemologi Bayani

Dari kata-kata bahasa arab, bayan berarti penjelasan (eksplantasi). Al Jabiri, berdasarkan beberapa makna yang diberikan kamus Lisan al Arab suatu kamus karya Ibn Mandzur dan dianngap sebagai karya pertama belum tercemari pengertian lain tentang kata ini, memberikan arti sebagai Al Fashl wa in Shal (Memisahkan dan terpisah) dan al Duhur wa al idhar (Jelas dan penjelasan). Makna al Fashl wa al idhar dalam kaitannya dengan metodologi, sedang infi sahl wa duhur berkaitan dengan visi .

Sementara itu, secara terminologi, byan mempunyai dua arti (1) sebagai aturan-aturan penafsiran wacana (Hawanin Tafsir Al Khitabi), (2) syarat-syarat memperuduksi wacana (Syurut intajj al Khitab). Berbeda dengan makna etimologi yang telah ada sejak awal peradaban islam, makana=makna terminologis ini baru lahir belakangan, yakni pada masa kodivikasi (Tabwin). Antara lain ditandai dengan lahirnya Al Asybah wa al nazhair fi Al Quran Al Karim karya Muqatir ibn Sulaiman (w.767 M) dan Ma’ani Al Quran karya ibn Ziyad al Farra’ (w.823 M) yang keduanya sama- sama berusaha menjelaskan makna atas kata – kata dan ibarat – ibatrat yang ada di dalam Al Quran (Al Jabiri), 1991: 1-20

Pengertian tentang Bayani tersebut kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran islam. Begitu pula aturan – aturan metode yang ada didalamnya pada masa Syafi’i (767-820M) yang dia anggap sebagai peletak dasar Yurisprodensi islam, Bayani berarti nama yang mencakup makna-makna yang mengandung persoalan ushul (pokok). Dan yang berkembang hingga ke cabang   (huruk). Dan dari segi metodelogi, Syafi’i membagi Bayan ini menjadi 5 bagian dan tingkatan: (1) Bayan yang tidak butuh penjelasan lanjut, berkenenan dengan sesuatu yang telah di jelaskan Tuhan dalam Al Quran sebagai ketentuan bagi makhluknya; (2) Bayan yang beberapa bagiannya masih global sehingga butuh penjelasan sunnah; (3) Bayan yang seluruhannya masih global sehingga butuh penjelasan sunnah; (4) Bayan sunnah, sebagai uraian atas sesuatu yang tidak terdapat dalam Al Quran; (5) Bayan Ijtihad yang dilakukan dengan kias atas sesuatu yang tidak terdapat dalam Al Quran maupun sunnah. Dari lima derajat bayan tersebut Al Syafi’i kemudian menyatakan bahwa yang pokok (husul) ada tiga, yakni Al Quran, Sunnah, dan Qiyas, kemudian ditambah ijma (Al Jabiri, 1991: 23).

Al Jahizh (w.868M) yang datang berikutnya mengkritik konsep bayan Syafi’i di atas. Menurutnya, apa yang dilakukan Syafi’i baru pada tahap bagaimana memahami teks, belum pada tahap bagaimana memberikan pemahaman pada pendengar atas pemahaman pendengar yang diperoleh. Padahal, menurutnya, inilah yang terpenting dari proses bayani. Karena itu, sesuai dengan asumsinya bahwa bayan adalah syarat – syarat untuk memproduksi wacana (syurut intaj al khithab) dan bukan sekedar aturan–aturan penafsiran wacana (qawanin tafsir al khitabhi), Jahizh menetapkan syarat bagi bayani: (1) syarat kefasihan ucapan (2) seleksi huruf dan lafat, sehingga apa yang disampaikan bisa menjadi tepat guna, (3) adanya keterbukaan makna, yakni bahwa makna harus bisa di ungkapkan dengan salah satu dari lima bentuk penjelas, yakni lafat, isyarat, tulisan. Keyakinan dan nisbah, (4) adanya kesesuaian antara kata dan makna, (5) adanya kekuatan kalimat untuk memaksa lawan mengakui kebenaran yang disampaikan dan mengakui kelemahan serta kesalahan konsepnya sendiri (Al-Jabiri, 1991: 25-30).

Sampai disini, bayani telah berkembang jauh. Ia tidak lagi sebagai sekedar penjelas atas kata-kata sulit dalam Al Quran tetapi telah berubah menjadi sebuah metode bagaimana memahami sebuah teks (nash), membuat membuat kesimpulan dan keputusan atasnya, kemudian memberikan uraian secara sistematis atas pemahaman tersebut kepada pendengar, bahkan telah ditarik al jahizh dalam rangka memberikan uraian pada pendengar tersebut, pada masa berikutnya, dianggap kurang tepat dan sistematis. Menurut Ibn Wahhab, bayani bukan diarahkan untuk mendidik konsep diatas dasar ashul furu’ ; caranya dengan menggunakan paduan pola yang dipakai ulama fiqh dan kalam (teologi) (Al Jabiri, 1991:32)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s