Latar Belakang Akhwal Dalam Tasawuf

Ahwal adalah bentuk jamak dari hal. Seperti halnya maqam, hal (state) digunakan kaum sufi untuk menunjukkan kondisi spiritual. Kata hal dalam perspektif tasawuf sering diartikan dengan “keadaan”, maksudnya adalah keadaan atau kondisi spiritual. Secara teoritis, memang bisa dipahami bahwa seorang hamba kapan pun ia mendekat pada Allah dengan cara berbuat kebajikan, ibadah, riyadhah, dan mujahadah, maka Allah akan memanifestasikan dirinya dalam kalbu hamba tersebut. Hal juga dapat dikatakan dengan keadaan mental seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan sedih, perasaan takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut sebagai ahwal (hal)  adalah takut (al-khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), berterima kasih (al-syukr).[[1]]

Secara lebih jauh, bahwa hal merupakan arti yang intuitif dalam hati,  tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau suka cita. Maka setiap hal, merupakan karunia (mawahib). Hal, datang dari wujud itu sendiri. [[2]] al-Hujwiri berpendapat bahwa hal ialah sesuatu yang turun dari tuhan ke dalam hati manusia, tanpa ia mampu   menolaknya bila datang, atau meraihnya bila pergi, dengan ikhtiarnya sendiri .

Al-Sarraj, sebagai sufi yang hidup lebih dahulu dari para sufi di atas, memandang bahwa ahwal adalah “Apa-apa yang bersemayam di dalam kalbu dengan sebab dzikir yang tulus”. Ada yang mengatakan bahwa hal adalah zikir yang lirih (khafiy), sebagaimana Hadist nabi yang menyatakan bahwa sebaik-baik dzikir adalah yang lirih (khayr al-dzikir al-khafy). Menurut al-Saraj, al-Junaid juga melihat bahwa hal bertempat di dalam kalbu dan tidak kekal. Dalam pandangan al-Sarraj, hal tidak diperoleh melalui ibadah, riyadhah da mujahadah sebagaimana maqamat, melainkan anugerah Allah.

Al- Ghazali kelihatannya juga memiliki pandangan yang mirip dengan para sufi pendahulunya di atas. Ia menyatakan, apabila seseorang telah tetap dan mantap dalam suatu maqam, ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu, dan itulah hal. Hal nampak cepat berubah. Ia mencontohkan tentang warna kuning yang dapat dibagi dua bagian. Warna kuning yang tetap, seperti warna kuning yang ada pada emas dan warna kuning yang cepat berubah yakni warna kuning yang ada pada sakit kuning. Begitu pula perasaan, kondisi dan sifat hati. Kadangkala mempunyai sifat tetap dan mempunyai sifat berubah. Kondisi, sifat dan perasaan hati yang tetap di sebut maqam dan yang mempunyai sifat berubah dinamakan hal.


[1] Harun Nasution : Filsafat dan mistisisme dalam islam.

[2] al-Qusyairi : Arrisalah Al-Qusairiyyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s