Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah

1. Pendiri Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah

Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah ialah sebuah thariqat gabungan dari Thariqat Qadiriyah dan Thariqat Naqsabandiyah (TQN). Thariqat ini didirikan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872) yang dikenal sebagai penulis kitab Fath al-Arifin. Sambas adalah nama sebuah kota di sebelah utara Pontianak, Kalimantan Barat. Syaikh Naquib al-‘Attas mengatakan bahwa TQN tampil sebagai sebuah thariqat gabungan karena Syaikh Sambas adalah seorang syaikh dari kedua thariqat tersebut dan mengajarkannya dalam satu versi yaitu mengajarkan dua jenis zikir sekaligus yaitu zikir yang dibaca dengan keras (jahar) dalam Thariqat Qadiriyah dan zikir yang dilakukan dalam hati (khafi) dalam thariqat naqsabandiyah.

Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu’ dan ta’dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasil ijtihadnya.
2. Ajaran Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah

Ajaran – ajaran Thariqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah secara garis besar merupakan gabungan dari dua unsur – unsur ajaran Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yaitu cara membaiat, sepuluh macam lathaif, bentuk banyak dari lathifah berarti (titik) halus (di dalam tubuh manusia). Syaikh Sambas menerangkan tentang 3 syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam dalam mengingat, merasa selalu diawasi Allah di dalam hatinya dan pengabdian kepada syaikh, kemudian diakhiri dengan penjelasan rinci tentang dua puluh macam meditasi.
3. Penyebaran Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah

Qadiriyah wa Naqsabandiyah Jawa Tengah berpusat di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen. Pesantren ini didirikan oleh kiai ‘Abd al-Rahman pada tahun 1905. Lalu dilanjutkan oleh putranya, kiai Muslih. Salah satu murid dari kiai Muslih, Kiai Abu Nur Djazuli telah menyebarkan TQN di Brebes. Sementara itu, di Kajen, seorang murid lainnya dari kiai Muslih, yaitu KH Durri Nawawi, mengajar TQN disana. Menurut kiai Hakim, TQN Mranggen juga mempunyai cabang – cabang di seluruh Indonesia dan juga di luar negeri.

Thariqat Qadiriyah Naqsabandiyah Rejoso, berpusat di Pondok Pesantren Darul Ulum. Dikenal sebagai sebuah pesantren bergengsi dan pusat thariqat di Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Tamin dari Madura.

Thariqat Qadiriyah Naqsabandiyah di Banten memainkan peran yang sangat penting, terutama dalam komunikasi dan koordinasi jaringan petani di abad ke-19 yaitu dengan pecahnya Pemberontakan Petani Banten 1888.

Thariqat Qadiriyah Naqsabandiyah di Cirebon tidak dapat dilepaskan dari nama Kiai Tolhan. Khalifah yang paling penting dari Kiai Tolhan yaitu Abdullah Mubarok, yang juga mengambil inisiasi dari Syaikh ‘Abd al-Karim Banten. Abah sepuh inilah yang kemudian pada tahun 1905 mendirikan Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya dan kemudian diteruskan oleh putranya, Abah Anom hingga sekarang.

Thariqat ini juga menyebar hingga Lampung, Palembang, Medan, Pontianak, Bali, Lombok hingga Malaysia dan Singapura.

4 thoughts on “Thariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s