THARIQAT NAQSABANDIYAH

1. Pendiri Thariqat Naqsabandiyah

Pendiri thariqat Naqsyabandiyah adalah seorang pemuka tasawuf terkenal, yakni Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi (717 H / 1318 M – 791 H / 1389 M), dilahirkan di sebuah desa Qashrul Arifah, kurang lebih 4 mil dari Bukhara tempat lahir imam Bukhari. Ia belajar tasawuf kepada Baba al-Samasi ketika berusia 18 tahun. Kemudian ia belajar ilmu thariqat pada Amir Sayyid Kulal al-Bukhari. Dari Kulal inilah ia pertama belajar thariqat yang didirikannya.[1]


2. Teknik dan Ritual Thariqat Naqsabandiyah

Thariqat Naqsabandiyah mempunyai beberapa tata cara peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri. Ajaran dasar thariqat Naqsabandiyah adalah:

  1. Husy dar dam, “sadar sewaktu bernafas”. Suatu latihan konsentrasi dimana seseorang harus menjaga diri dari kekhilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan kehadiran Allah SWT.
  2. Nazhar bar qadam, “Menjaga langkah”. Maksudnya seorang murid bila berjalan harus menundukkan kepala, bila duduk tidak menoleh ke kanan atau ke kiri. Sebab memandang kepada aneka ragam ukiran dan warna dapat melalaikan orang dari mengingat Allah, selain itu juga supaya tujuan – tujuan yang (rohaninya) tidak dikacaukan oleh segala hal yang berada di sekelilingnya.
  3. Safar dar watham, “Melakukan perjalanannya di tanah kelahirannya”. Maknanya adalah  berpindah dari sifat – sifat manusia yang rendah kepada sifat – sifat malaikat yang terpuji.
  4. Khalwat dar anjuman, “Sepi di tengah keramaian”. Maksud dari asas ini adalah perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan masyarakat, tetapi pada waktu yang bersamaan hatinya harus tetap tertaut kepada Allah dengan berdzikir.
  5. Yad Krad, “Ingat dan menyebut”. Berdzikir terus menerus mengingat Allah, baik dzikir izm al-dzat (menyebut Allah), maupun dzikir nafi isbat (menyebut La Ilaha illa Allah).
  6. Baz Gasht, “Kembali”, “Memperbarui”. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan hati agar tidak condong kepada hal – hal yang menyimpang.
  7. Nigah Dasyt, “Waspada”. Setiap murid harus menjaga hati, pikiran, dan perasaan dari sesuatu walau sekejap ketika melakukan zikir tauhid. Hal ini bertujuan untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Allah dan untuk memelihara pikiran dan perilaku agar sesuai dengan makna tersebut.
  8. Yad Dasyt, “Mengingat kembali”. Adalah tawajuh (menghadapkan diri) kepada Allah SWT, tanpa berkata – kata. Pada hakikatnya menghadapkan diri dan mencurahkan perhatian kepada Allah SWT.
  9. Wuquf zamani, “Memeriksa penggunaan waktu”, yaitu senantiasa selalu mengamati dan memerhatikan dengan teratur keadaan dirinya setiap dua atau tiga jam sekali. Apabila ternyata keadaannya terus menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah. Sebaliknya apabila ia lalai, maka harus segera minta ampun dan tobat kepada Allah SWT.

10.Wuquf ‘Adadi, “Memeriksa hitungan dzikir”, yakni dengan penuh kehati-hatian memelihara bilangan ganjil pada dzikir nafi-itsbat.

11.  Wuquf Qalbi, “Menjaga hati tetap terkontrol”, kehadiran hati serta kebenaran tiada yang tersisa, sehingga perhatian sesorang secara sempurna sejalan dengan dzikir dan maknanya.

Dzikir

Titik berat amalan penganut Thariqat Naqsabandiyah adalah dzikir. Dzikir adalah berulang – ulang menyebut nama Allah atau menyatakan kalimah La ilaha illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah), dengan tujuan untuk mencapai kesadaran akan Allah yang lebih langsung dan permanen.

Thariqat Naqsabandiyah mempunyai dua macam dzikir :

  1. Dzikir Ism al-dzat, artinya mengingat nama Yang Haqiqi dengan mengucapkan nama Allah berulang – ulang dalam hati, ribuan kali sambil memusatkan perhatian kpada Allah semata.
  2. Dzikir tauhid, artinya mengingat keesaan.

3.   Penyebaran Thariqat Naqsabandiyah

Thariqat Naqsabandiyah adalah sebuah thariqat yang mempunyai dampak dan pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda – beda. Thariqt naqsabandiyah yang menyebar di nusantara berasal dari pusatnya di Makkah, yang dibawa oleh para pelajar Indonesia yang belajar di sana dan oleh para jemaah haji Indonesia. Mereka kemudian memperluas dan menyebarkan thariqat ini ke seluruh pelosok nusantara. Thariqat ini tersebar ampir ke seluruh provinsi yang ada di tanah air. Inilah satu – satunya thariqat yang terwakili di semua provinsi yang berpenduduk mayoritas muslim. Pengikut thariqat Naqsabandiyah terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, yang berstatus social rendah sampai lapisan menengah dan lapisan yang lebih tinggi.


[1] Ibid, hal 89

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s